![]() |
| www.myfbcovers.com |
Sabtu, 13 Juli 2013
Jumat, 25 Juni 2010
SURAT KEDUA
Hallo Papa dan Mama?
Apa kabar kalian?
Rasa rindu ini semakin tak terbendung saja.
Saya sungguh rindu Mama dan Papa.
Hmm, sekarang saya sedang mencoba untuk menjadi seorang wanita yang mandiri, saya mohon doa Mama dan Papa supaya keinginan saya terwujud, meski untuk mencapainya tidaklah mudah karena saya adalah anak gadis yang manja bukan? Tapi Papa dan Mama tenang saja, kali ini saya akan buktikan kalau saya pasti bisa mandiri alias tidak terlalu banyak bergantung kepada orang lain.
Mohon doanya juga untuk Ibo, semoga dia sabar dalam menggapai kesuksesannya. saya tahu dengan pasti Ibo adalah anak kesayangan Mama, tapi saya tetap gadis bawel Mama khan?
Sekarang saya juga sudah mulai sedikit terbiasa hidup tanpa ada Mama dan Papa di samping saya, meski pada awalnya sangat susah.Untungnya saya masih memiliki sahabat, teman, dan tetangga yang masih berada di sekitar saya dan memperhatikan saya. Saya harap Mama dan Papa tidak perlu khawatir lagi.
Maaf ya Ma, saya belum terbiasa menjadi wanita sejati, saya belum bisa mengurus rumah dengan becus dan sikap lelet yang selalu Mama permasalahkan masih saja saya pelihara, hehe, maaf.
Hmm, sudah dulu yah.
Aku cinta Mama dan Papa.
Aku rindu Papa dan Mama.
Mmmuuuuaaaccchhhh....
Apa kabar kalian?
Rasa rindu ini semakin tak terbendung saja.
Saya sungguh rindu Mama dan Papa.
Hmm, sekarang saya sedang mencoba untuk menjadi seorang wanita yang mandiri, saya mohon doa Mama dan Papa supaya keinginan saya terwujud, meski untuk mencapainya tidaklah mudah karena saya adalah anak gadis yang manja bukan? Tapi Papa dan Mama tenang saja, kali ini saya akan buktikan kalau saya pasti bisa mandiri alias tidak terlalu banyak bergantung kepada orang lain.
Mohon doanya juga untuk Ibo, semoga dia sabar dalam menggapai kesuksesannya. saya tahu dengan pasti Ibo adalah anak kesayangan Mama, tapi saya tetap gadis bawel Mama khan?
Sekarang saya juga sudah mulai sedikit terbiasa hidup tanpa ada Mama dan Papa di samping saya, meski pada awalnya sangat susah.Untungnya saya masih memiliki sahabat, teman, dan tetangga yang masih berada di sekitar saya dan memperhatikan saya. Saya harap Mama dan Papa tidak perlu khawatir lagi.
Maaf ya Ma, saya belum terbiasa menjadi wanita sejati, saya belum bisa mengurus rumah dengan becus dan sikap lelet yang selalu Mama permasalahkan masih saja saya pelihara, hehe, maaf.
Hmm, sudah dulu yah.
Aku cinta Mama dan Papa.
Aku rindu Papa dan Mama.
Mmmuuuuaaaccchhhh....
Label:
KOTAK SURAT
Selasa, 11 Mei 2010
SURAT PERTAMAKU
Apa kabar Bapak dan Mama? Bapak dan Mama pasti tahu betapa tidak beresnya aku jika menulis surat, itu karena aku memang jarang menulis surat, menulis surat hanya aku lakukan dalam keadaan mendesak atau dipaksa. Ini surat pertamaku setelah 2 bulan Bapak dan Mama sudah tidak tinggal bersamaku lagi.
Aku rindu Bapak dan Mama, rindu dengan kecupan Bapak, rindu dengan pelukan Mama, rindu dengan omelan Mama, rindu berdebat dengan Bapak, rindu melihat Bapak dan Mama menangis untuk setiap kebahagiaan yang kalian syukuri, rindu doa dan semangat yang senantiasa terucap dari kedua bibir kalian, rindu kasih sayang Bapak dan Mama, sungguh!!
Bapak dan Mama sekarang tidak perlu mengkhawatirkan Ibo lagi. Dia sekarang sudah mulai dewasa menghadapi kehidupan ini, dia sudah menunjukkan bahwa dia seorang pria, tidak lagi menjadi lelaki kecil kesayangan kalian dan dia juga sudah mulai memperlihatkan kepadaku bahwa kelak dia akan menjadi adik yang baik dan sukses, mohon doa Bapak dan Mama. Selain itu aku dan Ibo sudah jarang lagi bertengkar, mungkin karena terpisah jarak bermil-mil. Aku juga merindunya!!
Mama jangan marah yah kalau aku masih belum becus mengurus rumah, belum bisa memasak dengan baik, belum bisa membersihkan rumah dengan baik, belum bisa mengatur perabotan rumah tangga dengan baik, tapi aku akan berusaha melakukan semuanya, mencoba melakukan yang terbaik, sungguh!!
Sungguh banyak hal yang sesuai dengan nasehat Bapak dan Mama, maaf karena aku selalu saja membantah atau menyepelehkan apa yang Bapak dan Mama ucapkan, tapi tidak sedikit juga yang aku patuhi bukan? Terima kasih untuk nasehatnya, meski saat ini aku masih menginginkan lebih banyak lagi nasehat dari Bapak dan Mama.
Bapak dan Mama doakan aku dan Ibo yah, semoga kami bisa tetap berbakti kepada Bapak dan Mama, selalu menjalankan setiap keinginan Bapak dan Mama, semoga mendapatkan kesuksesan dalam setiap langkah kami, semoga untaian d'oa Bapak dan Mama senantiasa menghiasi hidup kami, amin.
Jujur, kami berdua cinta dan sayang Bapak dan Mama, semoga rasa cinta dan sayang itu tetap terus terpelihara. Semoga Bapak dan Mama bahagia di sana dan diberi kemudahan untuk setiap tahapan serta tergabung dalam bagian yang diberi keberkahan.
Sudah dulu yah, lain waktu aku akan menulis lagi surat untuk Bapak dan Mama.
--With love to both of you--
Aku rindu Bapak dan Mama, rindu dengan kecupan Bapak, rindu dengan pelukan Mama, rindu dengan omelan Mama, rindu berdebat dengan Bapak, rindu melihat Bapak dan Mama menangis untuk setiap kebahagiaan yang kalian syukuri, rindu doa dan semangat yang senantiasa terucap dari kedua bibir kalian, rindu kasih sayang Bapak dan Mama, sungguh!!
Bapak dan Mama sekarang tidak perlu mengkhawatirkan Ibo lagi. Dia sekarang sudah mulai dewasa menghadapi kehidupan ini, dia sudah menunjukkan bahwa dia seorang pria, tidak lagi menjadi lelaki kecil kesayangan kalian dan dia juga sudah mulai memperlihatkan kepadaku bahwa kelak dia akan menjadi adik yang baik dan sukses, mohon doa Bapak dan Mama. Selain itu aku dan Ibo sudah jarang lagi bertengkar, mungkin karena terpisah jarak bermil-mil. Aku juga merindunya!!
Mama jangan marah yah kalau aku masih belum becus mengurus rumah, belum bisa memasak dengan baik, belum bisa membersihkan rumah dengan baik, belum bisa mengatur perabotan rumah tangga dengan baik, tapi aku akan berusaha melakukan semuanya, mencoba melakukan yang terbaik, sungguh!!
Sungguh banyak hal yang sesuai dengan nasehat Bapak dan Mama, maaf karena aku selalu saja membantah atau menyepelehkan apa yang Bapak dan Mama ucapkan, tapi tidak sedikit juga yang aku patuhi bukan? Terima kasih untuk nasehatnya, meski saat ini aku masih menginginkan lebih banyak lagi nasehat dari Bapak dan Mama.
Bapak dan Mama doakan aku dan Ibo yah, semoga kami bisa tetap berbakti kepada Bapak dan Mama, selalu menjalankan setiap keinginan Bapak dan Mama, semoga mendapatkan kesuksesan dalam setiap langkah kami, semoga untaian d'oa Bapak dan Mama senantiasa menghiasi hidup kami, amin.
Jujur, kami berdua cinta dan sayang Bapak dan Mama, semoga rasa cinta dan sayang itu tetap terus terpelihara. Semoga Bapak dan Mama bahagia di sana dan diberi kemudahan untuk setiap tahapan serta tergabung dalam bagian yang diberi keberkahan.
Sudah dulu yah, lain waktu aku akan menulis lagi surat untuk Bapak dan Mama.
--With love to both of you--
Label:
KOTAK SURAT
Jumat, 09 April 2010
JANGAN BERITAHUKAN PADANYA!!
Jangan beritahukan padanya bahwa di setiap kali aku membuka mata dan menyapa mentari pagi, bayangan senyumnya hal pertama yang terlintas dibenakku
Jangan beritahukan padanya bahwa di setiap malam, dirinya selalu hadir menghiasi mimpiku
Jangan beritahukan padanya bahwa di setiap asaku, kuharap akan menggapainya bersamanya
Jangan beritahukan padanya bahwa di setiap kebahagiaan yang kugapai, berbagi dengannya adalah hal yang paling ku inginkan
Jangan beritahukan padanya bahwa di setiap hembusan napasku, namanya selalu terucap
Jangan beritahukan padanya bahwa di setiap detik dalam hidupku, mencarinya adalah rutinitasku
Jangan beritahukan padanya betapa aku sangat mencintainya
Tolong, jangan beritahukan padanya!!!
Label:
PUISI
TAHU DAN TIDAK!!
Jujur, selain nama dan profesimu selebihnya aku tak mengenal dirimu
Aku tak tahu apa-apa tentangmu
Aku tak tahu apa kau seseorang yang penyanyang, lemah lembut atau tidak
Aku tak tahu apa dirimu cukup tempramen dan keras kepala sepertiku atau tidak
Aku tak tahu apakah dengan memandang langit luas yang bertabur bintang berkilau akan membuat hatimu merasa teang seperti yang biasa aku lakukan kala diriku galau
Aku tak tahu apa kau suka makan coklat dan es krim, cemilan kesukaanku
Aku tak tahu apa kau akan mentolelir pola hidupku saat ini, mengingat dirimu pasti akan sangat ekstra peduli dengan kesehatan
Aku juga tak tahu apa kau masih available atau tidak!!
Yang aku tahu bahwa sepertinya kau telah mencuri perhatianku
Yang aku tahu bahwa kau telah membuat celah baru di hatiku
Kau telah membuat kedua retinaku fokus untuk selalu mencarimu
Kau telah membuat hatiku selalu berdetak begitu kencang, setidaknya memacu beberapa hormonku bekerja tidak dalam kondisi biasanya.
Kau telah mampu membuat otakku untuk terus menganalisa dirimu, memaksaku membuat banyak pertanyaan hanya mengenaimu, membuat ribuan bahkan ratusan ribu sel-sel neuronku saling berkomunikasi, merekatkan ratusan ribu akson dan dendrit.
Kau telah membuatku berpikir tentang kita...
06 Maret 2010; 08.44
Aku tak tahu apa-apa tentangmu
Aku tak tahu apa kau seseorang yang penyanyang, lemah lembut atau tidak
Aku tak tahu apa dirimu cukup tempramen dan keras kepala sepertiku atau tidak
Aku tak tahu apakah dengan memandang langit luas yang bertabur bintang berkilau akan membuat hatimu merasa teang seperti yang biasa aku lakukan kala diriku galau
Aku tak tahu apa kau suka makan coklat dan es krim, cemilan kesukaanku
Aku tak tahu apa kau akan mentolelir pola hidupku saat ini, mengingat dirimu pasti akan sangat ekstra peduli dengan kesehatan
Aku juga tak tahu apa kau masih available atau tidak!!
Yang aku tahu bahwa sepertinya kau telah mencuri perhatianku
Yang aku tahu bahwa kau telah membuat celah baru di hatiku
Kau telah membuat kedua retinaku fokus untuk selalu mencarimu
Kau telah membuat hatiku selalu berdetak begitu kencang, setidaknya memacu beberapa hormonku bekerja tidak dalam kondisi biasanya.
Kau telah mampu membuat otakku untuk terus menganalisa dirimu, memaksaku membuat banyak pertanyaan hanya mengenaimu, membuat ribuan bahkan ratusan ribu sel-sel neuronku saling berkomunikasi, merekatkan ratusan ribu akson dan dendrit.
Kau telah membuatku berpikir tentang kita...
06 Maret 2010; 08.44
Label:
PUISI
LET'S TALK ABOUT SENIOR HIGH SCHOOL
Memang benar lirik yang dilantunkan Crisye, kalau masa yang paling indah itu memang masa di kala kita SMA atau setingkatnya. Bagiku masa di MAN memang masa pelangi, masa suka cita berbaur jadi satu. Masa di mana saya mulai mengenal arti persahabatan yang sampai saat ini masih terjalin utuh. Masa di mana saya mulai mengenal yang namanya cinta, walaupun sebagian besar orang bilang itu hanya cinta monyet, bagiku yang penting itu tetaplah cinta, terserah mau cinta apa. Masa di mana terjadi transisi menjadi gadis remaja karena memang sudah waktunya berproses, meski itu membuatku terkadang merasa sedikit risih.
Hadir dengan sosok sangat tomboy dan bawel adalah perpaduan yang cukup aneh, bukankah kebanyakan gadis manja yang rada bawel bukan sebaliknya, cewek tomboy kayak aku. Ini mungkin karena orang tuaku yang selalu saja mengajakku berdiskusi atau sekedar berbagi cerita tentang pengalaman yang kulalui setiap harinya di sekolah, tentunya sisi kenakalanku selalu menjadi hal yang tidak akan aku ceritakan, bukannya takut, orang tuaku terlalu demokrasi dan sangat mentolelir diriku, maklum aku anak perempuan mereka satu-satunya, lagi pula selama ini tidak ada seorang pun temanku yang mengeluh dengan keresekanku.
Hadir dengan sosok sangat tomboy dan bawel adalah perpaduan yang cukup aneh, bukankah kebanyakan gadis manja yang rada bawel bukan sebaliknya, cewek tomboy kayak aku. Ini mungkin karena orang tuaku yang selalu saja mengajakku berdiskusi atau sekedar berbagi cerita tentang pengalaman yang kulalui setiap harinya di sekolah, tentunya sisi kenakalanku selalu menjadi hal yang tidak akan aku ceritakan, bukannya takut, orang tuaku terlalu demokrasi dan sangat mentolelir diriku, maklum aku anak perempuan mereka satu-satunya, lagi pula selama ini tidak ada seorang pun temanku yang mengeluh dengan keresekanku.
Label:
SENIOR HIGH SCHOOL
GADIS HUJAN
Hujan selalu membasahi tubuhnya, mengalir menjelajahi kepalnya, berseluncur pada setiap helai rambut panjangnya yang terurai indah. Wajahnya selalu dia tengadahkan ke atas sambil memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan setiap titik-titik air hujan yang turun menyentuh wajah ayunya.
Entah mengapa, hanya di saat hujan saja orang dapat melihatnya, melihatnya berkomunikasi dengan hujan, melihatnya tersenyum ceria sendiri, melihatnya menangis tersedu-sedu tanpa ada yang tahu penyebabnya.
Gadis itu takkan pernah ditemui lagi ketika hujan reda. Seolah hujanlah kekasih yang selalu dinantinya, dan musim penghujan adalah obat kerinduan baginya. Tak pernah seorang pun yang menyapanya, semua tampak diam, hanya menikmati aksi gadis itu. Ketika gadis itu tersenyum, orang-orang pun ikut tersenyum, begitu pula jika dia menangis, tiba-tiba orang-orang pun tampak kalut. Aku juga tak tahu mengapa, tak tahu mengapa gadis itu bisa seperti itu, taka tahu mengapa tak seorang pun yang mau berbicara dengannya, tak tahu mengapa orang asyik melihatnya dan terbawa suasana dengan sikap gadis itu.
Mungkin, hanya gadis itu dan hujan yang tahu.
Label:
CERPEN
Minggu, 15 November 2009
GOOD LAWYER
Judul Buku : GOOD LAWYER
Penulis : Zara Zetira ZR dan Blogger Indonesia.
Penerbit : Rose Heart Publishing
Dicetak oleh : PT. Gramedia
Ukuran Buku : 134 mm x 199 mm x 12 mm
Jumlah Halaman : 306 lembar + 2 lembar sampul
Content Buku :
Buku ini adalah buku kumpulan cerita-cerita pendek bertemakan hukum yang merupakan karya para Blogger Indonesia yang tergabung dalam Rose Heart Writers (RHW) yang didukung sepenuhnya oleh penulis kondang Zara Zettira ZR.
Adapun keberagaman cerita dalam buku ini merupakan implementasi dari kebaragaman para penulisnya sendiri, tak terelakkan juga adanya pengaruh etnis dan paradigma mereka memandang kesusasastraan sebagai media pembelajaran hukum yang cukup relevan.
Label:
RESENSI
ESPECIALLY FOR YOU
Judul Buku : ESPECIALLY FOR YOU
Penulis : Risa Amrikasari
Penerbit : Rose Heart Publishing
Dicetak oleh : PT. Gramedia
Ukuran Buku : 109 mm x 174 mm x 20mm
Jumlah Halaman : 352 lembar + 2 lembar sampul
Content Buku :
Especially For You adalah buku kumpulan artikel motivasi diri yang ditulis oleh Risa Amrikasari yang merupakan sebagian kecil dari artikel pilihan yang dibuatnya selama tiga tahun terakhir ini. Sebagian besar dari artikel yang ada di buku ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis yang senantiasa mengamati peristiwa-peristiwa di sekitarnya, terutama hal yang berkaitan dengan perempuan.
Label:
RESENSI
Sabtu, 14 November 2009
MISTISKAH ATAU KETIDAKMAMPUAN PENYEBABNYA!!!
PONARI!! Nama yang satu ini, akhir-akhir ini menjadi buah bibir bagi para pencari berita. Bagaimana tidak, seorang bocah kelas 3 SD, tiba-tiba hadir menjadi seorang yang mampu menyembuhkan penyakit orang lain, yang kalau di negeri kita, orang-orang semacam dirinya, yang pandai mengobati tanpa melewati jenjang resmi pendidikan kesehatan ataupun kedokteran dikenal dengan sebutan DUKUN.
PONARI dalam minggu-minggu terakhir ini hadir sebagai DUKUN CILIK yang sakti pula. Kesaktiannya itu tersebar ke beberapa tempat tersohor, apalagi dengan bantuan para pencari berita, sungguh informasi ini tak terbendung meluas.
Label:
SEKELILING
Kamis, 12 November 2009
STOP GLOBAL WARMING
Isu global warming memang marak disuarakan beberapa tahun ini, tapi tahukah kamu bahwa 'The King of Pop' Michael Jackson sudah memperlihatkan kepeduliannya terhadap hal tersebut setidaknya sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu, hal itu terbukti lewat lagunya yang berjudul 'Heal The World', tak hanya sampai di situ saja, Jacko (sapaan akrab sang Raja Pop ini) jugamembuktikannya dengan mendirikan yayasan yang didedikasikan selain untuk anak-anak juga sebagai wujud kontribusinya terhadap dunia yang dananya bersumber dari hasil penjualan album dan konsernya.
Ada juga salah satu band di negara kita yang menamakan grup bandnya dengan sebutan 'Efek Rumah Kaca', hal ini mereka lakukan sebagai wujud peduli mereka terhadap isu global warming, penamaan grup band mereka itu diharapkan dapat mengingatkan kita tentang bahayanya efek rumah kaca, jadi setiap kali kalian mendengar nama grup band itu diharapkan adanya kesadaran agar kita mau menjaga bumi ini.
Jacko dan band Efek Rumah Kaca tak hanya menyuarakan isu global warming dengan lantang, tapi juga membuktikannya, BAGAIMANA DENGAN LOE??
Label:
SEKELILING
RENUNGAN SANG SUARA SUCI
Belum juga bangsa ini menyatukan puing-puing ketegarannya atas semua cobaan yang memilukan semua raga rakyatnya, berlanjut lagi kegalauan menampar keras meninggalkan tapak merah bekas kesedihannya. Kini wajah-wajah sarasehan bangsa merah putih ini bak lukisan bendera putih yang berhias gegana hitam. Lukisan kedukaan bangsa yangtiada henti-hentinya diberi eksamen.
***
Ketika kusempatkan diriku merenungi semua peristiwa-peristiwa kelam yang kini menjadi sebuah cerita yang tiada berakhiryang menimpa bangsaku, sosok malaikat kematian yang sibuk mengabsen nama calon-calon pengikutnya membayangi setiap sudut mataku.
Di setiap kedipan mataku, silih berganti drama kedukaan bum pertiwi ini antrian ingin memperlihatkan kekelamanya padaku.
"Tuhan, apa salah insan bumi khatulistiwa ini pada-Mu?".
Label:
CERPEN
POLEMIK WANITA - TERIK MATAHARI, TIMBANGAN DAN RAMUAN KECANTIKAN
Tepat pukul 14.25, saat terik matahari mulai mengalah membakarhangus atau setidaknya memanasi bumi. Andika mengajakku bermainbasket di halaman rumahnya bersama teman-teman kelasku di SMAN 1 Cakrawala. Aku pun merespon ajakan itu dengan gerakan tubuh berjingkrak-jingkrak--memberi kesan sangat bahagia.
Aku lalu masuk ke kamar mengambil sport shoes-ku dan mengganti bajuku, kemudian berlari menuruni tangga menuju teras menghampiri Andika yang sudah menungguku, tiba-tiba suara Mom--panggilan kesayanganku dan kakak-kakakku terhadap Ibu, menghalangi kepergianku, "Anggun, mau kemana?"
"Ke rumah Andika", jawabku singkat.
Mom kemudian berjalan mendekatiku, melihat penampilanku, lalu bertanya pada Andika, "Kalian tidak akan belajar kelompokkan?"
"Tidak Bu, kami mau main basket", jawab Andika sopan.
"Tapi cuaca sangat cerah bahkan terasa panas saat ini, sebaiknya kalian bermain basket jam 4 saja", komentar Ibu.
"Tapi teman-temanku sudah keburu pulang Mom", ujarku manja, berharap Mom mau menerima alasan klise-ku disertai dengan raut wajah yang ku buat cukup memelas, itu menurutku.
"Terik matahari bukan sesuatu yang baik untukmu Anggun, mengerti!"
Label:
CERPEN
RONA INDAH YANG TERTINGGAL DI PELATARAN
Hari ini adalah hari kedua ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru di kampus itu. Setelah selesai berkutat mengutak-atik semua isi memori otakku, mengumpulkan semua informasi yang pernah menetap dan tinggal, agar bias menjawab soal-soal tersebut, kuputuskan untuk segera pulang ke rumah mengistirahatkan tubuh dan otakku yang sudah sangat lelah. Namun, ketika aku beranjak meninggalkan ruangan test menuju pintu gerbang universitas yang berjarak sekitar 50 meter langkahku terhenti, bukan, bukan karena kepalaku tiba-tiba nyut-nyut tidak karuan karena telah bekerja keras menjawab soal-soal itu, bukan juga karena perutku yang sedang demontrasi karena belum diberi keadilan ‘sarapan pagi’, tapi ada peristiwa yang mengundangku untuk melihatnya meski hanya sekilas.
Tertarik dengan keadaan yang begitu baru bagiku dengan status sosial yang tidak pasti mengingat aku bukan lagi seorang siswi SMA dan belum juga terdaftar sebagai seorang mahasiswi, naluri penasaranku bangkit, dengan segera kulangkahkan kakiku menuju kerumunan itu, selanjutnya kudapati diriku telah berada dalam kerumunan itu, ya menjadi salah satu bagian dari mereka, sayangnya hanya sebagai unsur pelengkap saja. Semuanya tenang, hanya kelompok itu yang memecahkan keheningan alam dengan irama rintihan kegundahan mereka, bagi mereka ketika terjadi ketidaksesuaian antara alam ide dan realita, maka spontanitas merespon peristiwa itu terjadi begitu saja.
Terdengar riuh beberapa orang mahasiswa bersorak di pelataran gedung kokoh berwarna putih nan menjulang tinggi tempat kelompok itu menggelar aksinya. Sebuah rutinitas ketika gelar mahasiswa telah berada dalam genggamannya, mengkritik semua realita yang mereka hadapi. Dengan berbagai alasan, entah karena panggilan hati nurani atau panggilan lembaran rupiah, entahlah aku tidak cukup bijak menilai aksi mereka dan juga aku belum punya alibi yang kuat untuk menghakimi perbuatan mereka.
Tentunya pengalaman ini pengalaman pertamaku menyaksikan secara langsung tanpa ada batas ruang dan waktu, begitu nyata dan begitu dekat, melihat aksi demonstrasi. Dengan cekatan kujelajajahi setiap lekuk orang – orang di sekitarku, apalagi dengan kelompok itu, kelompok berbalut warna duka, sorotan mataku memandang mereka begitu detil, seolah – olah hampir menelanjangi seluruh tubuh mereka yang masih tertutup rapi oleh pakaian yang mereka pakai, tak ada satupun bagian yang terlewati dari pandanganku seperti ingin mengumpulkan semua informasi tentang mereka.
Setelah puas memenuhi rasa penasaran jiwaku, lalu kulemparkan pandanganku di setiap sudut wilayah itu, sebuah universitas yang akan menjadi almamaterku kelak, universitas yang akan mempertemukanku dengan banyak hal, mulai dengan sahabat – sahabat baru, orang – orang yang mungkin akan begitu berarti bagiku dan mungkin pula aku akan menemukan banyak hal yang mampu menenangkanku dari semua kegundahan jiwaku.Masih berada dalam kerumunan orang – orang yang dari tadi tanpa bosan mendengar aspirasi kelompok berbalut warna duka yang begitu semangat, begitu membara, aku mencoba mencari tempat berteduh dari panas sengatan matahari. Karena aku sudah mendapat posisi yang menurutku strategis, aku masih saja tetap fokus melihat aksi kelompok berbalut warna duka itu. Karena menganggap itu sesuatu yang baru, maka tak ada satu hal pun yang akan terlewatkan bagiku.
“Mengapa mesti ada diskriminasi dalam pendidikan, hanya gara – gara calon mahasiswa baru yang mengikuti test masuk universitas tidak berpakaian “rapi dan sopan”, mestinya tidak ada hal yang membatasi ketika seseorang berjuang memenuhi hasrat pengetahuannya”.Begitulah garis merah yang bisa kutarik dari aksi kelompok berbalut warna duka itu, pada waktu itu aku dengan cepat menyetujuinya, bahwa dalam dunia pendidikan tidak boleh ada yang namanya batasan, diskriminasi atau apalah. Namun, sesaat kemudian sepertinya ada hal yang perlu dikritiki tentang statement mereka.
“Tetapi bukankah semakin berpendidikan seseorang mestinya dia akan lebih mengetahui sopan-santun, lebih beretika dan beradab. Bukankah sekolah atau lembaga pendidikan yang ada mempunyai visi yang tidak hanya membuat murid atau mahasiswanya menjadi cerdas tetapi juga beradab.
” Gumanku merespon reaksi mereka, sekalipun hal ini hanya sebatas perdebatan nuraniku.
“Bukannya mencoba untuk mendiskriminasikan mereka-mereka yang tidak berpakaian rapi dan sopan. Tetapi teguran itu sepantasnya dilakukan agar seseorang dapat membedakan pakaian apa yang mereka gunakan dan untuk kegiatan apa. Seseorang wanita misalnya tidak mungkin menggunakan high hells untuk berolahraga. Sama halnya dengan para peserta yang ingin mengikuti test atau ujian selayaknya mengenakan pakaian yang rapi dan sopan. Bukankah rapi dan sopan adalah bagian dari keindahan? Bukankah semua orang menyukai keindahan? Bukankah pula ajaran agama kita mengajarkan demikian? Bukankah ini juga upaya kita dalam berbuat adil pada tubuh dan keadaan sekitar?” sekelumit pertanyaan terus-menerus muncul hingga memenuhi sel-sel otakku yang begitu sempit akibat terik mentari.
Sesaat kemudian satu demi satu orang meninggalkan tempat itu, pertanda aksi itu sudah selesai, disertai dengan itu para komunitas hitam itu kini bersatu dengan keheningan alam. Betul – betul hening. Semua pergi dengan berbagai ekspresi, ada yang cuek, ada yang tersenyum entah dengan alasan apa, ada pula yang hanya diam tanpa respon, bisu.
“Ternyata kelompok berbalut warna duka itu bisa juga diam” gumanku dalam hati.
“Sudah capek berceloteh atau…, ah lupakan saja toch semua telah berakhir” gumanku mengakhiri perdebatan bathinku.Merasa puas dengan semuanya, kupaksa kakiku yang sudah letih untuk meninggalkan tempat itu, bersama dengan itu pandanganku masih tetap tertuju ke kelompok berbalut warna duka itu.
“Apakah pihak universitas akan merespon aksi mereka? Kalau iya, apa untungnya jika pihak universitas bereaksi dengan demonstrasi itu? Apa yang mereka harapkan dari aksi tadi? Atau aksi itu tidak perlu direspon bahkan mereka tidak menginginkannya, mereka hanya mengeluarkan penat di hati” pikirku, kali ini mereka betul-betul meneror sel-sel otakku.
Pulang ke rumah, sepertinya itulah yang sedari tadi ingin kulakukan. Akupun berjalan selangkah demi langkah meninggalkan kampus baruku itu. Namun pandangan mataku dengan segera terhenti dengan spontan pada sesosok pria yang mengapa bagiku dia tampak begitu berbeda dari pria – pria yang berada mengelilinginya.
“Dia punya aura yang begitu memukau” puji bathinku. Laksana mutiara di padang pasir, engkau begitu tampak.Tiba-tiba sebuah lukisan senyuman nan indah menghiasi figura wajahnya.
“Senyuman yang indah” puji bathinku lagi.Langkahku kini sontak berhenti, entah mengapa.
“Akankah aku akan bertemu dengan dirimu lagi?” tanyaku pada garis nasib hidupku.Selanjutnya pria jangkung nan hitam manis itu setiap saat selalu mencuri perhatianku, dia memiliki rahang uerignatik yang tegas di paras timur tengahnya. Sesosok pria yang kharismatik, sosok yang selanjutnya mengganggu ketentraman hatiku. Bayangannya terus mengganggu, setiap saat. Bahkan di saat kuterlena di alam bawah sadarku, berkutat dengan asa dan impian dalam wujud mimpi.
Dalam kehampaan kehidupan ini, kau hadir memberi warna pada diriku....
Kau melukis kisahmu pada kanvas hidupku dengan kuas cintaku
Meski di selanjutnya kesemuan dan kemustahilan mendapatkan dirimu
Namun, cukuplah sudah jika aku mencintaimu tanpa kau ketahui bahkan tanpa balasan darimu Kubiarkan kenangan tentangmu selalu berada dalam diary hatiku yang pernah kutulis dengan pena auramu.
Tertarik dengan keadaan yang begitu baru bagiku dengan status sosial yang tidak pasti mengingat aku bukan lagi seorang siswi SMA dan belum juga terdaftar sebagai seorang mahasiswi, naluri penasaranku bangkit, dengan segera kulangkahkan kakiku menuju kerumunan itu, selanjutnya kudapati diriku telah berada dalam kerumunan itu, ya menjadi salah satu bagian dari mereka, sayangnya hanya sebagai unsur pelengkap saja. Semuanya tenang, hanya kelompok itu yang memecahkan keheningan alam dengan irama rintihan kegundahan mereka, bagi mereka ketika terjadi ketidaksesuaian antara alam ide dan realita, maka spontanitas merespon peristiwa itu terjadi begitu saja.
Terdengar riuh beberapa orang mahasiswa bersorak di pelataran gedung kokoh berwarna putih nan menjulang tinggi tempat kelompok itu menggelar aksinya. Sebuah rutinitas ketika gelar mahasiswa telah berada dalam genggamannya, mengkritik semua realita yang mereka hadapi. Dengan berbagai alasan, entah karena panggilan hati nurani atau panggilan lembaran rupiah, entahlah aku tidak cukup bijak menilai aksi mereka dan juga aku belum punya alibi yang kuat untuk menghakimi perbuatan mereka.
Tentunya pengalaman ini pengalaman pertamaku menyaksikan secara langsung tanpa ada batas ruang dan waktu, begitu nyata dan begitu dekat, melihat aksi demonstrasi. Dengan cekatan kujelajajahi setiap lekuk orang – orang di sekitarku, apalagi dengan kelompok itu, kelompok berbalut warna duka, sorotan mataku memandang mereka begitu detil, seolah – olah hampir menelanjangi seluruh tubuh mereka yang masih tertutup rapi oleh pakaian yang mereka pakai, tak ada satupun bagian yang terlewati dari pandanganku seperti ingin mengumpulkan semua informasi tentang mereka.
Setelah puas memenuhi rasa penasaran jiwaku, lalu kulemparkan pandanganku di setiap sudut wilayah itu, sebuah universitas yang akan menjadi almamaterku kelak, universitas yang akan mempertemukanku dengan banyak hal, mulai dengan sahabat – sahabat baru, orang – orang yang mungkin akan begitu berarti bagiku dan mungkin pula aku akan menemukan banyak hal yang mampu menenangkanku dari semua kegundahan jiwaku.Masih berada dalam kerumunan orang – orang yang dari tadi tanpa bosan mendengar aspirasi kelompok berbalut warna duka yang begitu semangat, begitu membara, aku mencoba mencari tempat berteduh dari panas sengatan matahari. Karena aku sudah mendapat posisi yang menurutku strategis, aku masih saja tetap fokus melihat aksi kelompok berbalut warna duka itu. Karena menganggap itu sesuatu yang baru, maka tak ada satu hal pun yang akan terlewatkan bagiku.
“Mengapa mesti ada diskriminasi dalam pendidikan, hanya gara – gara calon mahasiswa baru yang mengikuti test masuk universitas tidak berpakaian “rapi dan sopan”, mestinya tidak ada hal yang membatasi ketika seseorang berjuang memenuhi hasrat pengetahuannya”.Begitulah garis merah yang bisa kutarik dari aksi kelompok berbalut warna duka itu, pada waktu itu aku dengan cepat menyetujuinya, bahwa dalam dunia pendidikan tidak boleh ada yang namanya batasan, diskriminasi atau apalah. Namun, sesaat kemudian sepertinya ada hal yang perlu dikritiki tentang statement mereka.
“Tetapi bukankah semakin berpendidikan seseorang mestinya dia akan lebih mengetahui sopan-santun, lebih beretika dan beradab. Bukankah sekolah atau lembaga pendidikan yang ada mempunyai visi yang tidak hanya membuat murid atau mahasiswanya menjadi cerdas tetapi juga beradab.
” Gumanku merespon reaksi mereka, sekalipun hal ini hanya sebatas perdebatan nuraniku.
“Bukannya mencoba untuk mendiskriminasikan mereka-mereka yang tidak berpakaian rapi dan sopan. Tetapi teguran itu sepantasnya dilakukan agar seseorang dapat membedakan pakaian apa yang mereka gunakan dan untuk kegiatan apa. Seseorang wanita misalnya tidak mungkin menggunakan high hells untuk berolahraga. Sama halnya dengan para peserta yang ingin mengikuti test atau ujian selayaknya mengenakan pakaian yang rapi dan sopan. Bukankah rapi dan sopan adalah bagian dari keindahan? Bukankah semua orang menyukai keindahan? Bukankah pula ajaran agama kita mengajarkan demikian? Bukankah ini juga upaya kita dalam berbuat adil pada tubuh dan keadaan sekitar?” sekelumit pertanyaan terus-menerus muncul hingga memenuhi sel-sel otakku yang begitu sempit akibat terik mentari.
Sesaat kemudian satu demi satu orang meninggalkan tempat itu, pertanda aksi itu sudah selesai, disertai dengan itu para komunitas hitam itu kini bersatu dengan keheningan alam. Betul – betul hening. Semua pergi dengan berbagai ekspresi, ada yang cuek, ada yang tersenyum entah dengan alasan apa, ada pula yang hanya diam tanpa respon, bisu.
“Ternyata kelompok berbalut warna duka itu bisa juga diam” gumanku dalam hati.
“Sudah capek berceloteh atau…, ah lupakan saja toch semua telah berakhir” gumanku mengakhiri perdebatan bathinku.Merasa puas dengan semuanya, kupaksa kakiku yang sudah letih untuk meninggalkan tempat itu, bersama dengan itu pandanganku masih tetap tertuju ke kelompok berbalut warna duka itu.
“Apakah pihak universitas akan merespon aksi mereka? Kalau iya, apa untungnya jika pihak universitas bereaksi dengan demonstrasi itu? Apa yang mereka harapkan dari aksi tadi? Atau aksi itu tidak perlu direspon bahkan mereka tidak menginginkannya, mereka hanya mengeluarkan penat di hati” pikirku, kali ini mereka betul-betul meneror sel-sel otakku.
Pulang ke rumah, sepertinya itulah yang sedari tadi ingin kulakukan. Akupun berjalan selangkah demi langkah meninggalkan kampus baruku itu. Namun pandangan mataku dengan segera terhenti dengan spontan pada sesosok pria yang mengapa bagiku dia tampak begitu berbeda dari pria – pria yang berada mengelilinginya.
“Dia punya aura yang begitu memukau” puji bathinku. Laksana mutiara di padang pasir, engkau begitu tampak.Tiba-tiba sebuah lukisan senyuman nan indah menghiasi figura wajahnya.
“Senyuman yang indah” puji bathinku lagi.Langkahku kini sontak berhenti, entah mengapa.
“Akankah aku akan bertemu dengan dirimu lagi?” tanyaku pada garis nasib hidupku.Selanjutnya pria jangkung nan hitam manis itu setiap saat selalu mencuri perhatianku, dia memiliki rahang uerignatik yang tegas di paras timur tengahnya. Sesosok pria yang kharismatik, sosok yang selanjutnya mengganggu ketentraman hatiku. Bayangannya terus mengganggu, setiap saat. Bahkan di saat kuterlena di alam bawah sadarku, berkutat dengan asa dan impian dalam wujud mimpi.
***
Dalam kehampaan kehidupan ini, kau hadir memberi warna pada diriku....
Kau melukis kisahmu pada kanvas hidupku dengan kuas cintaku
Meski di selanjutnya kesemuan dan kemustahilan mendapatkan dirimu
Namun, cukuplah sudah jika aku mencintaimu tanpa kau ketahui bahkan tanpa balasan darimu Kubiarkan kenangan tentangmu selalu berada dalam diary hatiku yang pernah kutulis dengan pena auramu.
Label:
CERPEN
Cinta Berbatas Usia
"Buah Nangka Buah kedondong, siapa sangka Rizha dapat berondong," ledek Reza sambil ketawa kecil, yang diejek langsung cemberut.
"Udah Reza, berhenti ledekin Rizha, kasian tuh wajahnya udah ditekuk 8 lipatan, kusut lagi," bela Rianti.
"Tau nih sirik amat, amat aja tidak sampe sirik kaya gitu juga," Rizha mulai berkomentar.
"Abis sejarah percintaanmu kali ini sangat lucu. Udah dijodohin, ternyata dapatnya berondong pula.Apa pesonamu udah habis dimakan usia, secara umur loe khan udah kepala 3, alias 35 tahun, udah diambang masa krisis buat nikah," Reza meledek lagi, seketika tangan Rizha sudah berada di pinggal Reza, kemudian mencubitnya.
"Aduh, sakit tau. Gila yah nyubit nggak kira-kira," ujar Reza sambil mengelus pinggang, betul-betul sakit cubitan cewek cantik itu.
"Kira-kira? Loe tuh yang harusnya kira-kira kalo ledekin orang. Lagian, please dong, jangan bawa-bawa umur. Mentang-mentang udah nikah, pilihan sendiri lagi," balas Rizha merenungi nasibnya.
"Lho Zha, kamu kok seperti menyesali keputusan orang tuamu sich?" tanya Rianti.
"Bagaimana tidak kalian berdua menikah dengan pilihan kalian dengan sosok yang kalian kenali. Sedangkan aku? Secara sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi, tapi Siti Maesaroh," Jawab Rizha sebel.
"Aduh jangan marah dong neng, entar tuanya kelihatan tuh," Reza masih saja mengganggu sahabatnya itu.
"Au ah, gelap," jawab Rizha singkat.
"Neng, lagi gangguan mata yach? Wong matahari bersinar lagi cerah-cerahnya," ujar Reza ngeles.
"Reza...," teriak Rizha, lalu mencubit Reza lagi.
"Aduh, udah dong Zha. Entar kalo istriku lihat dikirain aku mau poligami ma elu. Idih amit-amit jabang bayi deh. Gue ogah nikah ma cewek cantik yang hobi nyubit, menderita tau," ujar Reza.
"Idih, siapa juga mau nikah ma cowok jahil kayak loe, apalagi jadi istri kedua. Kayak nggak ada cowok laen aja di dunia," ujar Rizha.
"Ehm..ehm, nyindir gue nih Zha," ujar Rianti dengan nada sedikit kesal dengan perkataan Rizha barusan, padahal Rizha tak bermaksud menyinggung perasaan sahabatnya yang satu itu.
"Nggak. Bukan itu maksudnya. Gue nggak lagi ngebahas loe, apalagi ngeledekin posisi loe sebagai istri kedua Pak Gunawan. Itu khan pilihan loe, lagian Pak Gunawan sepertinya mampu berbuat adil ma loe dan Mbak Karin," ujar Rizha mencoba menenangkan suasana, bagi Rizha, Rianti sosok cewek yang super sensitif, salah berkata atau bertingkah saja, bisa mengacaukan segalanya.
"Kirain," respon Rianti, kemudian meminum jus melon kesukaannya itu.
"Zha, loe yakin berondong loe bakal datang?" tanya Reza cuek, tangan Rizha sekali lagi mendarat di pinggang cowok berbadan seksi itu.
"Ampun Zha, sorry salah ngomong," ralat Reza.
"Yakin sih enggak, bahkan gue berharap kalo dia kagak bakalan datang. Gue doain dia sakit perut terus pengen buang air besar selama seharian atau saat lagi mangap ngirup udara, tiba-tiba ada lalat masuk ke tenggorokan dia terus, dia bakal kesakitan dan susah untuk bernapas, terus dilariin ke rumah sakit. He..he..," ujar Rizha penuh harapan.
Reza dan Rianti malah tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang mulai rada stress menghadapi hidupnya.
"Kenapa kalian ketawa, emang ada yang lucu?" tanya Rizha, bloon.
"Loe nggak sadar ma ucapan loe barusan, asli gokil banget. Doain orang nggak datang gak segitunya kali Zha. Jahat lho doain yang aneh-aneh," ujar Reza, masih terus tertawa.
"Iya nih, aduh neng, nggak segitunya kali. Emang loe udah pernah ketemu ma cowok itu?" tanya Rianti.
"Belon," jawab Rizha singkat.
"Tapi loe tahukan namanya?" tanya Rinanti lagi.
"Kata Nyokap sih, namanya Farel," jawab Rizha, mencoba mengingat nama pria yang nantinya akan menemani hidupnya.
"Biar tahu namanya kalo nggak pernah ngeliat mana bisa kita tau kalo itu Farel," ujar Reza mencoba mengingatkan Rianti dan Rizha.
"Hari ini dia datang pake baju hitam dan celana jeans dengan warna senada. Dia bakalan datang lagi," jawab Rizha yakin. Yakin? Perasaan apa yang tiba-tiba merasukinya, Rizha seketika yakin Farel akan datang di tempat itu, ketemu saja tidak, mengapa Rizha sekarang yakin.
"Yakin banget loe Za, uda mulai ada rasa nih ma si Farel?" goda Rianti, kali ini bukan Reza lagi, bahkan kedua sahabatnya itu sekarang kompakan mengganggunya.
"Siapa yang yakin?," Rizha mencoba ngeles. Kali ini tiba-tiba dia terdiam, apa karena usianya yang membuat dia yakin Farel akan datang, yakin atau hanya meyakinkan diri. Rizha galau.
"Gue permisi ke toilet dulu yah," ujar Rizha, belum sempat Rizha pergi meninggalkan kursinya, tangan Rianti meraihnya.
"Loe marah yah Zha? Sorry deh, gue nggak bermaksud seperti itu kok," ujar Rianti dengan nada khawatir.
Rizha tersenyum, "Nggak, bukan karena itu kok, sumpah".
"Loe yakin Zha nggak papa dengan ucapan Rianti?" tanya Reza mencari kejujuran dari sikap Rizha.
"Iya nggak papa, gue udah kebelet nih," ujar Rizha, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gue temani yah Zha," ajak Rianti.
"Iya," jawab Rizha, mereka berdua lantas meninggalkan Reza sendiri duduk di kedai kopi favoritmereka. Mereka bertiga bersahabat sejak SMA, sudah cukup lama memang. Mengingat usia mereka rata-rata kepala 3. Awal pertemuan mereka hingga menjadi sahabat di kedai ini, bahkan moccacino, menupilihan favorit mereka. Hobby mereka juga sama. Bahkan tanpa diduga, orang tua mereka bertigajuga bersahabatan, hal ini mereka ketahui saat orang tua mereka reunian. Mereka bertiga sangat terkejut saat tahu bahwa orang tua mereka saling mengenal, dunia memang sempit yang jeng, ujar Ibu Reza pada Mama Rizha dan Mama Rianti. Reuni itu menyatukan kenangan masa lalu orang tua mereka, bagaimana tidak pekerjaan dan status pernikahan yang memisahkan mereka, keluarga Reza berdomisili di Padang, Rizha di Makassar, hanya Rianti yang tetap berdomisili di Bandung. Sungguh persahabatan yang abadi. Ternyata tidak hanya gen yang bisa diturunkan tapi juga persahabatan.
"Zha, lho kok nangis sich," uar Rianti khawatir.
"Gue galau Ti, entah mengapa gue tadi sangat yakin akan kedatangan Farel, tepatnya gue sangat berharap dia bakal datang. Apa ini karena usia gue yang udah nggak muda lagi, udah umur 35 taontapi masih single. Belum lagi calon gua umurnya lebih mudah delapan taon dari gue, gue takut kalo entar kalo gue udah tambah tua, tepatnya lagi saat gue bener-bener cinta ma dia, terus di saat itu dia malah sibuk cari cewek seusia atau lebih muda dari dia dan parahnya bakal ninggalin gue. Gue nggak mau itu semua terjadi. Kalo masalah perjodohan sih gue udah pasrah, mungkin ini satu-satunya jalan ortu gue buat cepat dapet menantu buat gue," jawab Rizha lirih, air mata kini membasahi kedua pipi putih dan mulusnya.Rianti memberi beberapa lembar tissue.
"Aduh neng jangan nangis dong, entar ornag kira gueapa-apain loe, khan bahaya," goda Rianti mencoba membuat sahabatnya tersenyum sembari tangan kirinya mengirim pesan darurat buat Reza.
Reza, loe cepetan ke taman dpn toilet cewek yah, Zha lg nangis nih.
Iya, gue ke sana skarang.
Seketika pria satu-satunya dalam lingkaran persahabatan mereka itu datang menghampiri wanitanya.Diluar sangkaan Reza, Rizha yang melihat kedatangan sahabatnya itu, lalu berlari kecil memeluknya.
"Loe kenapa Zha?" tanya Reza gagap. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan sedih juga menghampirihati Reza diam-diam.
"Kita cari tempat duduk yah Zha, orang-orang liatin kita nih. Gue rada risih," ujar Reza.Tiba-tiba Rizha melepas dekapannya.
"Risih, kenapa loe risih dipeluk perawan berusia 35 taon ya Reza," teriak Rizha memecahkan keheningan kedai kopi yang sangat tenang itu, kini hampir semua mata tertuju pada mereka bertiga.
"Loe tenang yah Zha. Gue nggak bermaksud kayak gitu. Loe tenang yah," bujuk Reza.
"Nggak usah cari alasan deh," ucap Rizha kecewa dan marah.
"Zha, tenang yah. Ini tempat umum, loe jangan teriak kayak gitu. Nggak malu diliatin orang, orang-orang bisa tau apa yang loe alami selama ini, mau loe?" ujar Rianti yang terkesan tega.
Rizha hanya diam, kemudian mengikuti arahan Reza duduk di bangku taman itu."Loe kenap Zha?" tanya Reza prihatin.
"Gue galau, apa masih ada yang mau sama perawan tiga puluh lima tahun ini," ujar Rizha.
"Kalo kamu mau, aku bersedia nikah sama kamu," ujar pria berahang eurignatik itu, tiba-tiba memecahkan kegalaun Rizha dan sahabatnya.
"Anda siapa?" tanya Reza sopan, tidak memakai aksen loe-gue-nya. Pria itu lantas mengulurkan tangannya.
"Saya Farel Aditya, calon suami Rizha. Itupun kalau Zha-nya bersedia," ujar Farel memperkenalkan dirinya.
"O... jadi kamu yang bernama Farel," ujar Reza takjub melihat Farel. Tampilan Farel tidak seperti orang yang berusia 27 tahun, penampilannya begitu dewasa dari usianya. Tampan, tinggi, punya sosot mata yang tajam, dan to the point, pria yang tepat, aku Reza.
"Gimana tawaranku yang barusan?" tanya Farel lagi. Rizha yang sedari tadi hanya diam dan menangis, lalu berkata "Loe nggak lagi sakitkan, gue bukan cewek yang tepat buat lho. Gue udah terlalu tua".
"Tapi aku cinta ma kamu," ucap Farel sopan, tapi Rizha tetap saja berbicara dengan aksen loe-gue-nya.
"Apa yang loe harapin dari cewek kayak gue?" tanya Rizha, Reza dan Rianti sadar, kalo Rizha cewek paling jutek, mereka berdua lalu memisahkan Rizha dan Farel, takut Rizha tiba-tiba berkata yang tidak-tidak atau berkelakuan aneh. Rizha tetap di taman bersama Rianti dan Reza mengajak Farel masuk ke kedai kopi dan duduk di tempat mereka semula.
"Zha, eling. Zha," ujar Rianti sembari memberikan segelas air mineral untuk Rizha.
"Gila apa tu cowok. Apa ortu gue ngerasa, gue uda nggak laku sampe mau dikasih ma berondong itu,"ujar Rizha lirih. Belum sempat Rianti menjawab pernyataan Rizha, handphone Rizha berdering. Lagu Let's get the beatnya Dirly Idol menggema dari speaker handphone Rizha. Nama Mamanya tampil di monitor handphonenya.
"Ada apa Ma," ujar Rizha membuka percakapannya dengan sang bunda.
"Zha, Farel udah tiba di sana khan?" tanya bunda.
"Udah," jawab Rizha singkat.
"Gimana orang cocok ma kamu khan, sayang?" tanya bunda di seberang sana.
"Mama yakin pria berusia 27 taon itu mau menikah ma cewek tua, berusia 32 taon ini?" tanya Rizhamencoba mencari pembenaran, apa benar masih ada berondong sudi memperistrikan dirinya.
"Sayang, Farel itu anaknya baik. Dia anak sahabat Papa",
"Bukan itu yang Rizha tanyakan Ma", potong Rizha, dalam beberapa saat kedua wanita itu hanyadiam, di seberang sana serang bunda merasa sedih mendengar perkataan anak gadisnya itu, segitukah ketidakpercayaan Rizha terhadap cinta, cinta tak pernah mengenal waktu dan tempat, tak mengenal ras dan suku bangsa, juga tak mengenal umur dan selisih usia, sedangkan anakgadisnya tetap saja sedih, bingung dan menungggu jawaban ibunya.
"Cobalah buka hatimu, sayang. Mama yakin Farel pria yang tepat untukmu," ujar bundanya.
"Mama juga yakin sewaktu Mama menikah dengan Papa yang usianya lebih tua enam taon dari Mama. Mama juga yakin sewaktu bercerai dengan Papa? Apa Rizha mesti harus yakin lagi dengan perkataan Mama, yang Mama sendiri nggak bisa pertanggungjawabkan?" tanya Rizha membuat suara wanita di seberang sana tak bergema untuk sesaat.
"Zha, udah dong. Kamu sekarang lagi bicara ma Mama kamu," tegur Rianti, kemudian mengambil handphone Rizha,
"Bu, ini Rianti. Maafkan perbuatan Zha yah Bu. Biar nanti kami yang urus, Ibu tenang saja. Selamat sore Bu," ujar Rianti menenangkan percekcokan kedua wanita itu.
"Gue..," belum selesai Rizha berbicara, tiba-tiba tangan Reza memegang tangannya dan menarik Rizha menuju ke dalam kedai kopi, entah apa yang telah Farel bicarakan dengan Reza, sampai sahabatnya itu tega menariknya bertemu dengan pria itu, bahkan tidak mengubris penolakan Rizha.
Kini Rizha telah duduk di hadapan Farel, mereka hanya berdua saja. Rianti dan Reza mengambil posisi duduk tepat di belakang meja mereka. Satu menit, dua menit, kini bahkan sudah hitungan menit ke-lima belas, Rizha dan Farel masih diam membisu. Rizha diam merenungi keadaannya, Farel diam memilih kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan wanita berkondisi galau di depannya itu. Tiba-tiba Rizha berdiri, mengambil tasnya, berbenah segera ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba tangan Farel menggenggam tangannya.
"Zha, jangan pulang yah," ujar Farel, Rizha hanya terdiam, kemudian melepaskan genggaman tangan Farel tapi tetap membenahi semua tasnya, memasukkan laptotnya, buku agenda meetingnya, dan alat tulis-menulisnya.
"Ok, kalo kamu mau pulang biar aku yang antar, gimana?" tawar Farel.
"Tidak, terima kasih Tuan Farel," tolak Farel, Rizha kemudian berlari meninggalkannya, bahkan tanpa berpamitan pada dua sahabatnya itu. Farel hanya tersenyum pada Rianti dan Reza, pertanda pamit, duluan meninggalkan mereka berdua. Kemudian berlari mengejar Rizha.
"Udah Reza, berhenti ledekin Rizha, kasian tuh wajahnya udah ditekuk 8 lipatan, kusut lagi," bela Rianti.
"Tau nih sirik amat, amat aja tidak sampe sirik kaya gitu juga," Rizha mulai berkomentar.
"Abis sejarah percintaanmu kali ini sangat lucu. Udah dijodohin, ternyata dapatnya berondong pula.Apa pesonamu udah habis dimakan usia, secara umur loe khan udah kepala 3, alias 35 tahun, udah diambang masa krisis buat nikah," Reza meledek lagi, seketika tangan Rizha sudah berada di pinggal Reza, kemudian mencubitnya.
"Aduh, sakit tau. Gila yah nyubit nggak kira-kira," ujar Reza sambil mengelus pinggang, betul-betul sakit cubitan cewek cantik itu.
"Kira-kira? Loe tuh yang harusnya kira-kira kalo ledekin orang. Lagian, please dong, jangan bawa-bawa umur. Mentang-mentang udah nikah, pilihan sendiri lagi," balas Rizha merenungi nasibnya.
"Lho Zha, kamu kok seperti menyesali keputusan orang tuamu sich?" tanya Rianti.
"Bagaimana tidak kalian berdua menikah dengan pilihan kalian dengan sosok yang kalian kenali. Sedangkan aku? Secara sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi, tapi Siti Maesaroh," Jawab Rizha sebel.
"Aduh jangan marah dong neng, entar tuanya kelihatan tuh," Reza masih saja mengganggu sahabatnya itu.
"Au ah, gelap," jawab Rizha singkat.
"Neng, lagi gangguan mata yach? Wong matahari bersinar lagi cerah-cerahnya," ujar Reza ngeles.
"Reza...," teriak Rizha, lalu mencubit Reza lagi.
"Aduh, udah dong Zha. Entar kalo istriku lihat dikirain aku mau poligami ma elu. Idih amit-amit jabang bayi deh. Gue ogah nikah ma cewek cantik yang hobi nyubit, menderita tau," ujar Reza.
"Idih, siapa juga mau nikah ma cowok jahil kayak loe, apalagi jadi istri kedua. Kayak nggak ada cowok laen aja di dunia," ujar Rizha.
"Ehm..ehm, nyindir gue nih Zha," ujar Rianti dengan nada sedikit kesal dengan perkataan Rizha barusan, padahal Rizha tak bermaksud menyinggung perasaan sahabatnya yang satu itu.
"Nggak. Bukan itu maksudnya. Gue nggak lagi ngebahas loe, apalagi ngeledekin posisi loe sebagai istri kedua Pak Gunawan. Itu khan pilihan loe, lagian Pak Gunawan sepertinya mampu berbuat adil ma loe dan Mbak Karin," ujar Rizha mencoba menenangkan suasana, bagi Rizha, Rianti sosok cewek yang super sensitif, salah berkata atau bertingkah saja, bisa mengacaukan segalanya.
"Kirain," respon Rianti, kemudian meminum jus melon kesukaannya itu.
"Zha, loe yakin berondong loe bakal datang?" tanya Reza cuek, tangan Rizha sekali lagi mendarat di pinggang cowok berbadan seksi itu.
"Ampun Zha, sorry salah ngomong," ralat Reza.
"Yakin sih enggak, bahkan gue berharap kalo dia kagak bakalan datang. Gue doain dia sakit perut terus pengen buang air besar selama seharian atau saat lagi mangap ngirup udara, tiba-tiba ada lalat masuk ke tenggorokan dia terus, dia bakal kesakitan dan susah untuk bernapas, terus dilariin ke rumah sakit. He..he..," ujar Rizha penuh harapan.
Reza dan Rianti malah tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang mulai rada stress menghadapi hidupnya.
"Kenapa kalian ketawa, emang ada yang lucu?" tanya Rizha, bloon.
"Loe nggak sadar ma ucapan loe barusan, asli gokil banget. Doain orang nggak datang gak segitunya kali Zha. Jahat lho doain yang aneh-aneh," ujar Reza, masih terus tertawa.
"Iya nih, aduh neng, nggak segitunya kali. Emang loe udah pernah ketemu ma cowok itu?" tanya Rianti.
"Belon," jawab Rizha singkat.
"Tapi loe tahukan namanya?" tanya Rinanti lagi.
"Kata Nyokap sih, namanya Farel," jawab Rizha, mencoba mengingat nama pria yang nantinya akan menemani hidupnya.
"Biar tahu namanya kalo nggak pernah ngeliat mana bisa kita tau kalo itu Farel," ujar Reza mencoba mengingatkan Rianti dan Rizha.
"Hari ini dia datang pake baju hitam dan celana jeans dengan warna senada. Dia bakalan datang lagi," jawab Rizha yakin. Yakin? Perasaan apa yang tiba-tiba merasukinya, Rizha seketika yakin Farel akan datang di tempat itu, ketemu saja tidak, mengapa Rizha sekarang yakin.
"Yakin banget loe Za, uda mulai ada rasa nih ma si Farel?" goda Rianti, kali ini bukan Reza lagi, bahkan kedua sahabatnya itu sekarang kompakan mengganggunya.
"Siapa yang yakin?," Rizha mencoba ngeles. Kali ini tiba-tiba dia terdiam, apa karena usianya yang membuat dia yakin Farel akan datang, yakin atau hanya meyakinkan diri. Rizha galau.
"Gue permisi ke toilet dulu yah," ujar Rizha, belum sempat Rizha pergi meninggalkan kursinya, tangan Rianti meraihnya.
"Loe marah yah Zha? Sorry deh, gue nggak bermaksud seperti itu kok," ujar Rianti dengan nada khawatir.
Rizha tersenyum, "Nggak, bukan karena itu kok, sumpah".
"Loe yakin Zha nggak papa dengan ucapan Rianti?" tanya Reza mencari kejujuran dari sikap Rizha.
"Iya nggak papa, gue udah kebelet nih," ujar Rizha, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gue temani yah Zha," ajak Rianti.
"Iya," jawab Rizha, mereka berdua lantas meninggalkan Reza sendiri duduk di kedai kopi favoritmereka. Mereka bertiga bersahabat sejak SMA, sudah cukup lama memang. Mengingat usia mereka rata-rata kepala 3. Awal pertemuan mereka hingga menjadi sahabat di kedai ini, bahkan moccacino, menupilihan favorit mereka. Hobby mereka juga sama. Bahkan tanpa diduga, orang tua mereka bertigajuga bersahabatan, hal ini mereka ketahui saat orang tua mereka reunian. Mereka bertiga sangat terkejut saat tahu bahwa orang tua mereka saling mengenal, dunia memang sempit yang jeng, ujar Ibu Reza pada Mama Rizha dan Mama Rianti. Reuni itu menyatukan kenangan masa lalu orang tua mereka, bagaimana tidak pekerjaan dan status pernikahan yang memisahkan mereka, keluarga Reza berdomisili di Padang, Rizha di Makassar, hanya Rianti yang tetap berdomisili di Bandung. Sungguh persahabatan yang abadi. Ternyata tidak hanya gen yang bisa diturunkan tapi juga persahabatan.
"Zha, lho kok nangis sich," uar Rianti khawatir.
"Gue galau Ti, entah mengapa gue tadi sangat yakin akan kedatangan Farel, tepatnya gue sangat berharap dia bakal datang. Apa ini karena usia gue yang udah nggak muda lagi, udah umur 35 taontapi masih single. Belum lagi calon gua umurnya lebih mudah delapan taon dari gue, gue takut kalo entar kalo gue udah tambah tua, tepatnya lagi saat gue bener-bener cinta ma dia, terus di saat itu dia malah sibuk cari cewek seusia atau lebih muda dari dia dan parahnya bakal ninggalin gue. Gue nggak mau itu semua terjadi. Kalo masalah perjodohan sih gue udah pasrah, mungkin ini satu-satunya jalan ortu gue buat cepat dapet menantu buat gue," jawab Rizha lirih, air mata kini membasahi kedua pipi putih dan mulusnya.Rianti memberi beberapa lembar tissue.
"Aduh neng jangan nangis dong, entar ornag kira gueapa-apain loe, khan bahaya," goda Rianti mencoba membuat sahabatnya tersenyum sembari tangan kirinya mengirim pesan darurat buat Reza.
Reza, loe cepetan ke taman dpn toilet cewek yah, Zha lg nangis nih.
Iya, gue ke sana skarang.
Seketika pria satu-satunya dalam lingkaran persahabatan mereka itu datang menghampiri wanitanya.Diluar sangkaan Reza, Rizha yang melihat kedatangan sahabatnya itu, lalu berlari kecil memeluknya.
"Loe kenapa Zha?" tanya Reza gagap. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan sedih juga menghampirihati Reza diam-diam.
"Kita cari tempat duduk yah Zha, orang-orang liatin kita nih. Gue rada risih," ujar Reza.Tiba-tiba Rizha melepas dekapannya.
"Risih, kenapa loe risih dipeluk perawan berusia 35 taon ya Reza," teriak Rizha memecahkan keheningan kedai kopi yang sangat tenang itu, kini hampir semua mata tertuju pada mereka bertiga.
"Loe tenang yah Zha. Gue nggak bermaksud kayak gitu. Loe tenang yah," bujuk Reza.
"Nggak usah cari alasan deh," ucap Rizha kecewa dan marah.
"Zha, tenang yah. Ini tempat umum, loe jangan teriak kayak gitu. Nggak malu diliatin orang, orang-orang bisa tau apa yang loe alami selama ini, mau loe?" ujar Rianti yang terkesan tega.
Rizha hanya diam, kemudian mengikuti arahan Reza duduk di bangku taman itu."Loe kenap Zha?" tanya Reza prihatin.
"Gue galau, apa masih ada yang mau sama perawan tiga puluh lima tahun ini," ujar Rizha.
"Kalo kamu mau, aku bersedia nikah sama kamu," ujar pria berahang eurignatik itu, tiba-tiba memecahkan kegalaun Rizha dan sahabatnya.
"Anda siapa?" tanya Reza sopan, tidak memakai aksen loe-gue-nya. Pria itu lantas mengulurkan tangannya.
"Saya Farel Aditya, calon suami Rizha. Itupun kalau Zha-nya bersedia," ujar Farel memperkenalkan dirinya.
"O... jadi kamu yang bernama Farel," ujar Reza takjub melihat Farel. Tampilan Farel tidak seperti orang yang berusia 27 tahun, penampilannya begitu dewasa dari usianya. Tampan, tinggi, punya sosot mata yang tajam, dan to the point, pria yang tepat, aku Reza.
"Gimana tawaranku yang barusan?" tanya Farel lagi. Rizha yang sedari tadi hanya diam dan menangis, lalu berkata "Loe nggak lagi sakitkan, gue bukan cewek yang tepat buat lho. Gue udah terlalu tua".
"Tapi aku cinta ma kamu," ucap Farel sopan, tapi Rizha tetap saja berbicara dengan aksen loe-gue-nya.
"Apa yang loe harapin dari cewek kayak gue?" tanya Rizha, Reza dan Rianti sadar, kalo Rizha cewek paling jutek, mereka berdua lalu memisahkan Rizha dan Farel, takut Rizha tiba-tiba berkata yang tidak-tidak atau berkelakuan aneh. Rizha tetap di taman bersama Rianti dan Reza mengajak Farel masuk ke kedai kopi dan duduk di tempat mereka semula.
"Zha, eling. Zha," ujar Rianti sembari memberikan segelas air mineral untuk Rizha.
"Gila apa tu cowok. Apa ortu gue ngerasa, gue uda nggak laku sampe mau dikasih ma berondong itu,"ujar Rizha lirih. Belum sempat Rianti menjawab pernyataan Rizha, handphone Rizha berdering. Lagu Let's get the beatnya Dirly Idol menggema dari speaker handphone Rizha. Nama Mamanya tampil di monitor handphonenya.
"Ada apa Ma," ujar Rizha membuka percakapannya dengan sang bunda.
"Zha, Farel udah tiba di sana khan?" tanya bunda.
"Udah," jawab Rizha singkat.
"Gimana orang cocok ma kamu khan, sayang?" tanya bunda di seberang sana.
"Mama yakin pria berusia 27 taon itu mau menikah ma cewek tua, berusia 32 taon ini?" tanya Rizhamencoba mencari pembenaran, apa benar masih ada berondong sudi memperistrikan dirinya.
"Sayang, Farel itu anaknya baik. Dia anak sahabat Papa",
"Bukan itu yang Rizha tanyakan Ma", potong Rizha, dalam beberapa saat kedua wanita itu hanyadiam, di seberang sana serang bunda merasa sedih mendengar perkataan anak gadisnya itu, segitukah ketidakpercayaan Rizha terhadap cinta, cinta tak pernah mengenal waktu dan tempat, tak mengenal ras dan suku bangsa, juga tak mengenal umur dan selisih usia, sedangkan anakgadisnya tetap saja sedih, bingung dan menungggu jawaban ibunya.
"Cobalah buka hatimu, sayang. Mama yakin Farel pria yang tepat untukmu," ujar bundanya.
"Mama juga yakin sewaktu Mama menikah dengan Papa yang usianya lebih tua enam taon dari Mama. Mama juga yakin sewaktu bercerai dengan Papa? Apa Rizha mesti harus yakin lagi dengan perkataan Mama, yang Mama sendiri nggak bisa pertanggungjawabkan?" tanya Rizha membuat suara wanita di seberang sana tak bergema untuk sesaat.
"Zha, udah dong. Kamu sekarang lagi bicara ma Mama kamu," tegur Rianti, kemudian mengambil handphone Rizha,
"Bu, ini Rianti. Maafkan perbuatan Zha yah Bu. Biar nanti kami yang urus, Ibu tenang saja. Selamat sore Bu," ujar Rianti menenangkan percekcokan kedua wanita itu.
"Gue..," belum selesai Rizha berbicara, tiba-tiba tangan Reza memegang tangannya dan menarik Rizha menuju ke dalam kedai kopi, entah apa yang telah Farel bicarakan dengan Reza, sampai sahabatnya itu tega menariknya bertemu dengan pria itu, bahkan tidak mengubris penolakan Rizha.
Kini Rizha telah duduk di hadapan Farel, mereka hanya berdua saja. Rianti dan Reza mengambil posisi duduk tepat di belakang meja mereka. Satu menit, dua menit, kini bahkan sudah hitungan menit ke-lima belas, Rizha dan Farel masih diam membisu. Rizha diam merenungi keadaannya, Farel diam memilih kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan wanita berkondisi galau di depannya itu. Tiba-tiba Rizha berdiri, mengambil tasnya, berbenah segera ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba tangan Farel menggenggam tangannya.
"Zha, jangan pulang yah," ujar Farel, Rizha hanya terdiam, kemudian melepaskan genggaman tangan Farel tapi tetap membenahi semua tasnya, memasukkan laptotnya, buku agenda meetingnya, dan alat tulis-menulisnya.
"Ok, kalo kamu mau pulang biar aku yang antar, gimana?" tawar Farel.
"Tidak, terima kasih Tuan Farel," tolak Farel, Rizha kemudian berlari meninggalkannya, bahkan tanpa berpamitan pada dua sahabatnya itu. Farel hanya tersenyum pada Rianti dan Reza, pertanda pamit, duluan meninggalkan mereka berdua. Kemudian berlari mengejar Rizha.
Label:
CERPEN
Minggu, 01 November 2009
Menemukanmu
Setelah sekian lama mencarimu, akhirnya ku menemukanmu.
Menemukanmu seakan memberi sensari yang luar biasa.
Seperti sensasi yang dirasakan Einsten saat berhasil menghipnosis jutaan orang dengab 'teori relativitasnya'
Atau sensasi seperti yang Bill Gates rasakan saat memperkenalkan kepada dunia sistem operasi windows
Atau mungkin juga seperti saat Raden Ajeng Kartini merasakan sensasi yang luar biasaa ketika berhasil menghantar wanita Indonesia keluar dari belenggu diskriminasi.
Berlebihan mungkin analogi yang saya sebutkan, tapi arti hadirmu bak mujizat dalam hidupku.
Meski ku tahu
Saat menemukanmu, kau telah bersama dengan wanita yang baru
Namun, aku tak peduli
Aku juga tak ingin menghancurkan jalinan kasih yang telah kau jalani bersamanya, tidak!!
Menemukanmu dan melihatmu bahagia adalah hal terpenting bagiku
Sama urgentnya dengan kebutuhan manusia atas senyawa O2
Memilikimu???
TIDAK jika inginmu bukan bersamaku....
Menemukanmu seakan memberi sensari yang luar biasa.
Seperti sensasi yang dirasakan Einsten saat berhasil menghipnosis jutaan orang dengab 'teori relativitasnya'
Atau sensasi seperti yang Bill Gates rasakan saat memperkenalkan kepada dunia sistem operasi windows
Atau mungkin juga seperti saat Raden Ajeng Kartini merasakan sensasi yang luar biasaa ketika berhasil menghantar wanita Indonesia keluar dari belenggu diskriminasi.
Berlebihan mungkin analogi yang saya sebutkan, tapi arti hadirmu bak mujizat dalam hidupku.
Meski ku tahu
Saat menemukanmu, kau telah bersama dengan wanita yang baru
Namun, aku tak peduli
Aku juga tak ingin menghancurkan jalinan kasih yang telah kau jalani bersamanya, tidak!!
Menemukanmu dan melihatmu bahagia adalah hal terpenting bagiku
Sama urgentnya dengan kebutuhan manusia atas senyawa O2
Memilikimu???
TIDAK jika inginmu bukan bersamaku....
Label:
PUISI
Sabtu, 12 September 2009
Saat Aku dan Kau Berpikir
Aku terdiam saat kau berpikir aku harus diam
Aku tersenyum saat kau berpikir aku harus tersenyum
Aku jatuh cinta padamu saat kau memikirkan hal itu.
Kau tak tersenyum meski aku berpikir kau tersenyum
Kau tak mengejarku meski aku berpikir kau berada di belakangku, mengejarku, dan meraihku untuk berada di sisimu
Kau bahkan tak jatuh cinta padaku saat aku memikirkan hal itu.
Kau membuatku selalu mengikuti kemana langkah kakimu beranjak
Menyeretku hanyut oleh derasnya arus eksistensi dirimu
Menghipnosisku hingga aku tak kuasa menjadi raja atas diriku sendiri.
Bagimu aku hanya tampak seperti halnya fatamorgana, begitu semu
Hingga kini aku pun tak yakin akan keberadaanku.
Aku selalu seperti apa yang kau pikirkan
Namun, kamu selalu hidup sesuai dengan apa yang kau pikirkan.
Makassar, 11 - 12 September
Dari semua yang telah kulakukan dalam hidup ini, meraih dan menggapaimu adalah hal tersulit bagiku.
Aku tersenyum saat kau berpikir aku harus tersenyum
Aku jatuh cinta padamu saat kau memikirkan hal itu.
Kau tak tersenyum meski aku berpikir kau tersenyum
Kau tak mengejarku meski aku berpikir kau berada di belakangku, mengejarku, dan meraihku untuk berada di sisimu
Kau bahkan tak jatuh cinta padaku saat aku memikirkan hal itu.
Kau membuatku selalu mengikuti kemana langkah kakimu beranjak
Menyeretku hanyut oleh derasnya arus eksistensi dirimu
Menghipnosisku hingga aku tak kuasa menjadi raja atas diriku sendiri.
Bagimu aku hanya tampak seperti halnya fatamorgana, begitu semu
Hingga kini aku pun tak yakin akan keberadaanku.
Aku selalu seperti apa yang kau pikirkan
Namun, kamu selalu hidup sesuai dengan apa yang kau pikirkan.
Makassar, 11 - 12 September
Dari semua yang telah kulakukan dalam hidup ini, meraih dan menggapaimu adalah hal tersulit bagiku.
Label:
PUISI
Kamis, 10 September 2009
090909
Butuh beberapa kisah untuk menyadari bahwa kenangan berasamamu itu abadi dalam ingatanku.
Butuh beberapa tahun untuk menyadari bahwa ternyata aku mencintaimu, bukan dia yang selalu kusebut namanya.
Butuh beberapa pria untuk menyadarkanku bahwa kau memang 'pria impianku'.
Makassar, 09 September 2009
Kala diri ini semakin mencintaimu, please forgive me....
I can't stop loving you....
Butuh beberapa tahun untuk menyadari bahwa ternyata aku mencintaimu, bukan dia yang selalu kusebut namanya.
Butuh beberapa pria untuk menyadarkanku bahwa kau memang 'pria impianku'.
Makassar, 09 September 2009
Kala diri ini semakin mencintaimu, please forgive me....
I can't stop loving you....
Label:
PUISI
Kembali Mencintaimu
Kupikir kenangan tentang dirimu betul-betul sirna dari kehidupanku, nampaknya tidak.
Kupikir bayangan dirimu telah musnah dari ingatanku, nampaknya tidak.
Kupikir anganku bersamamu telah raib ditelan rasa sakit hati dan putus asa karenamu,nampaknya tidak.
Makassar, 03 September 2009
Saat aku betul-betul terpenjarakan olehmu
Kupikir bayangan dirimu telah musnah dari ingatanku, nampaknya tidak.
Kupikir anganku bersamamu telah raib ditelan rasa sakit hati dan putus asa karenamu,nampaknya tidak.
Makassar, 03 September 2009
Saat aku betul-betul terpenjarakan olehmu
Label:
PUISI
Selasa, 28 Juli 2009
TAK CUKUP SABAR MENUNGGUKU
Harus kepada siapa lagi aku memohon?
Aku tidak mungkin memintanya padamu
Tidak, sungguh itu tidak akan aku lakukan
Memohon kepadamu sama saja dengan maut
Aku terlalu egois untuk melakukannya
Aku terlalu egois untuk memohon agar kau tetap bersamaku
Bukankah aku yang telah melepaskanmu
Membiarkanmu berlalu dengan gadis-gadismu
Gadis yang awalnya hanya sebagai alat agar aku cemburu
Namun, ternyata kau betul-betul bersama gadis-gadis itu
Kau tak cukup tangguh melawan keegoisanku
Kau tak cukup sabar menunggu hatiku sepenuhnya hanya untukmu
Aku juga tak mungkin memohon kepadanya
Memohon kepada gadis yang kini menjadi pujan hatimu agar mau melapaskanmu
Aku terlalu rendah untuk memohon kepadanya
Entahlah, terlalu rendah, malu atau aku tak tega melakukannya....
Kini bagaikan seribu anak panah yang melesat menuju diriku
Harapanku untuk bersamamu sekecil peluangku hidup setelah anak-anak panah itu menembus setiap organ tubuhku.
Selasa, 28 Juli 2009
Hal yang mestinya kutulis atau kuberitahukan padamu 3 tahun yang lalu, karena setelah itu aku melupakanmu sepert saat ini.
Aku tidak mungkin memintanya padamu
Tidak, sungguh itu tidak akan aku lakukan
Memohon kepadamu sama saja dengan maut
Aku terlalu egois untuk melakukannya
Aku terlalu egois untuk memohon agar kau tetap bersamaku
Bukankah aku yang telah melepaskanmu
Membiarkanmu berlalu dengan gadis-gadismu
Gadis yang awalnya hanya sebagai alat agar aku cemburu
Namun, ternyata kau betul-betul bersama gadis-gadis itu
Kau tak cukup tangguh melawan keegoisanku
Kau tak cukup sabar menunggu hatiku sepenuhnya hanya untukmu
Aku juga tak mungkin memohon kepadanya
Memohon kepada gadis yang kini menjadi pujan hatimu agar mau melapaskanmu
Aku terlalu rendah untuk memohon kepadanya
Entahlah, terlalu rendah, malu atau aku tak tega melakukannya....
Kini bagaikan seribu anak panah yang melesat menuju diriku
Harapanku untuk bersamamu sekecil peluangku hidup setelah anak-anak panah itu menembus setiap organ tubuhku.
Selasa, 28 Juli 2009
Hal yang mestinya kutulis atau kuberitahukan padamu 3 tahun yang lalu, karena setelah itu aku melupakanmu sepert saat ini.
Label:
PUISI
Langganan:
Postingan (Atom)







